1 / 3

FORCLIME

(Forests and Climate Change Programme)
Financial Cooperation (FC Module)
2 / 3

FORCLIME

(Forests and Climate Change Programme)
Financial Cooperation (FC Module)
3 / 3

FORCLIME

(Forests and Climate Change Programme)
Financial Cooperation (FC Module)

Dalam upaya mencapai sasaran, kualitas sumber daya manusia memiliki peran dan posisi strategis dalam menjamin keberhasilan suatu program. Program FORCLIME FC telah berupaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia melalui sistem pengembangan terpadu dengan berbagai kegiatan, seperti pelatihan, workshop, diskusi dan seminar, serta share learning. Share learning menjadi program tahunan yang efektif dalam peningkatan wawasan dan membangun tim FORCLIME FC dan mitra secara cepat. Kegiatan ini mampu meningkatkan kapasitas dan kinerja melalui pembelajaran dan evaluasi kegiatan secara mandiri dari pengembangan pemikiran kritis masing-masing individu. Kegiatan ini dilaksanakan pada 30 sampai dengan 2 November 2017 di beberapa lokasi yang mendukung program FORCLIME FC.

 

Pusat Madu Pramuka Cibubur, Jakarta

Pusat Madu Pramuka atau Taman Wisata Lebah Madu Pramuka melayani pelatihan terkait dunia perlebahan, sehingga pengunjung dapat mengetahui dan mempelajari kehidupan lebah madu, cara budidaya, dan pengolahan madu. Madu merupakan salah satu produk HHBK yang dikembangkan masyarakat di DA FORCLIME FC sebagai sumber mata pencaharaian. Kunjungan diawali dengan penjelasan mengenai teknik dan cara budidaya lebah penghasil madu dengan kotak sederhana. Produk yang dihasilkan dari budidaya lebah antara lain: madu, royal jeli, beepollen, dan propolis. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan budidaya lebah madu adalah luas areal yang cukup bagi lebah untuk mencari madu di lokasi yang sedang musim berbunga.

Kegiatan di Pusat Lebah Madu Pramuka ini juga memberikan informasi dan referensi ke peserta bahwa edukasi kepada konsumen juga bisa dijadikan strategi dalam pemasaran. Proses produksi madu oleh lebah dan cara pengolahan madu bisa dijadikan sarana untuk meyakinkan konsumen terkait kualitas produk, sehingga bisa meningkatkan kepercayaan publik dan permintaan pasar. Strategi ini bisa diterapkan dalam pemasaran madu hutan, yaitu melalui pembentukan pusat madu hutan yang melayani penjualan madu disertai edukasi ke konsumen terkait proses pemanenan madu lestari, pengolahan dan pengemasan madu secara higienis.

Yayasan Bambu Indonesia, Bogor

Yayasan Bambu Indonesia yang terletak di Cibinong Kabupaten Bogor ini didirikan dengan tujuan untuk melestarikan, mengembangkan dan memanfaatkan bambu Indonesia. Di bawah pimpinan Jatnika Nagamiharja, Yayasan ini telah membuat lebih dari 3000 rumah bambu di dalam dan di luar negeri dan mendidik lebih dari 20 angkatan tenaga ahli bambu. Rumah bambu karya Jatnika sudah menembus pasar ekspor, seperti Malaysia, Brunei, Spanyol, Arab Saudi, Jepang, Korea, dan Timur Tengah. Selain rumah bambu, Yayasan Bambu Indonesia juga memproduksi aneka macam produk bambu dengan nilai ekonomis yang tidak kalah tinggi, seperti perabotan rumah, kerajinan tangan, dan kreasi seni lainnya.

Pada kunjungan ke Yayasan Bambu Indonesia dijelaskan pentingnya menanam bambu bagi lingkungan serta teknik-teknik budidaya bambu, antara lain melalui ranting, ruas, akar, batang, dan biji. Narasumber Bapak Jatnika juga menjelaskan tentang filosofi bambu bahwa bambu memiliki nilai-nilai spiritual dan manfaat sebagai berikut:

  • Bambu adalah budaya, bahwa hampir seluruh kreasi seni tradisional bangsa Indonesia melibatkan bambu. Indonesia memiliki lebih dari 1500 jenis kreasi bambu di bidang seni.
  • Bambu adalah perjuangan merebut kemerdekaan, bahwa bangsa Indonesia memiliki ikatan sejarah yang kuat dengan bambu yang fungsinya sebagai senjata bambu runcing
  • Bambu adalah kebutuhan sehari-hari, bahwa kehidupan rakyat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari bambu, mulai dari bahan rumah, perabotan rumah tangga, bahan makanan, alat edukasi, bahan obat-obatan, objek perdagangan, alat transportasi (seperti rakit) dan lain sebagainya.
  • Bambu adalah kehidupan, kaitannya dengan konservasi tanah dan air, serta mampu mencegah bencana alam seperti tanah longsor dan banjir.

Bambu juga memiliki makna filosofis dalam kehidupan manusia. Bambu menggambarkan kelenturan, yaitu saat dihempas angin kencang tidak akan roboh karena mengikuti arah angin dan akan kembali ke posisi semula. Bambu semakin tinggi semakin lentur ke bawah, yang mengajarkan manusia untuk selalu merendah, meskipun memiliki banyak pengetahuan, kemampuan, maupun kekayaan. Bambu memiliki sifat berjamaah, yang tumbuh berumpun mengajarkan kepada manusia agar menjadi makhluk sosial yang toleran dan bekerjasama. Bambu juga mengajarkan kemandirian karena daunnya yang gugur untuk menjadi pupuknya sendiri.

Cerita dari Yayasan Bambu Indonesia ini mampu memotivasi para peserta untuk lebih mengembangkan bambu sebagai salah satu HHBK yang bisa dikembangkan dan pembelajaran bagi staf FORCLIME FC untuk meningkatkan nilai tambah dari bambu serta upaya-upaya pelestariannya.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, KLHK

Pada Pusat Diklat ini dilakukan pemaparan tentang manajemen agroforestry, pengembangan HHBK gaharu, dan pengelolaan tanaman karet dengan narasumber berkompeten, yaitu para peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan, KLHK dan Pusat Penelitian Karet.

Materi mengenai Praktik dan Pembelajaran Kelola Agroforestri di Jambi disampaikan oleh Dr. Hestri Lestari Tata, peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan KLHK. Agroforestri merupakan sistem pertanian yang mengintegrasikan berbagai komoditas berbasis tanaman kehutanan (fungsi budidaya). Salah satu bentuk agroforestri yang diterapkan di lokasi penelitian di Jambi adalah sistem Paludikultur, yaitu budidaya tanaman menggunakan jenis-jenis tanaman rawa atau tanaman lahan basah yang tidak memerlukan adanya drainase air gambut (fungsi lindung). Pohon Jelutung dipadukan dengan beberapa jenis tanaman perkebunan / pertanian seperti pinang kelapa, kelapa sawit, kopi dan karet. Pada dasarnya pemilihan jenis pohon harus disesuaikan dengan kesesuaian lahan (ekologi) dan kebutuhan jenis masyarakat (sosial), diperlukan peningkatan kapasitas, baik pada masyarakat maupun pemerintah (pusat dan daerah: KPH, dinas terkait), dan pengembangan pola intensif dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dan mendukung pembangunan hijau dan ekonomi hijau.

Materi kedua berjudul Pengembangan dan Pemanfaatan HHBK Gaharu disampaikan oleh Dr. Maman Turjaman, peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan KLHK. Gaharu merupakan gumpalan berwarna coklat kehitaman, berbau harum, mengandung damar wangi yang berada di batang, cabang, ranting, atau akar dari pohon penghasil gaharu yang sudah mengalami proses perubahan fisika dan kimia karena diinduksi oleh mikroorganisme endofit melalui proses alami maupun buatan. Gaharu dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuat parfum, dupa, obat-obatan, dan dekorasi /aksesoris.

Segmentasi produk gaharu melalui proses inokulasi jamur pembentuk gaharu antara lain gubal (3-5 tahun), kemedangan (2 tahun), dan minyak gaharu (1 tahun). Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan HHBK gaharu adalah bahwa usaha yang dilakukan harus bersama-sama dalam kelompok tani dan perlu kehati-hatian dalam memilih inokulan yang berkualitas karena saat ini banyak beredar inokulan palsu yang dijual dengan harga sangat tinggi.

Materi ketiga berjudul Budidaya, Pemanenan, dan Pengolahan Karet dipaparkan oleh Dr. Thomas Wijaya, peneliti dari Pusat Penelitian Karet, Balai Penelitian Sembawa. Penyampaian materi diawali dengan penjelasan mengenai pembibitan karet. Karet dapat dibudidayakan melalui biji, mata tunas (entras), dan okulasi. Tahap selanjutnya adalah persiapan lahan yang penting untuk menciptakan kondisi optimum pertumbuhan tanaman. Lahan penanaman karet dapat berasal dari lahan semak belukar, lahan peremajaan karet tua, dan padang alang-alang. Pembersihan lahan dilakukan melalui cara mekanis, manual, dan kimiawi. Langkah selanjutnya adalah pengajiran, pembuatan lubang tanam, dan penanaman bibit karet dilanjutkan dengan pemeliharaan tanaman berupa penyulaman, pembuangan tunas palsu, pembuangan tunas cabang, perangsangan percabangan, dan pemupukan.

Kampung Sarongge, Cianjur

Kampung Sarongge terletak di Desa Ciputri, Cianjur, di kaki Gunung Gede, berbatasan dengan kawasan hutan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Cianjur, di ketinggian 1000 – 1600 mdpl. Pada tahun 2003, Perum Perhutani menyerahkan lahan hutan ke Balai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango untuk menjadi bagian Taman Nasional, sehingga 150 keluarga petani yang bertani di area tersebut harus pindah. Lahan hutan 38 ha yang dulunya area pertanian, kini sudah ditanami 40.000 pohon melalui program adopsi pohon, yang melibatkan warga, tokoh, hingga para pejabat.

Umumnya, masyarakat Kampung Sarongge menanam sayuran yang diselingi pohon buah dan kopi. Masyarakat juga sadar akan wisata pendidikan, sehingga Wisata Alam Sarongge menjadi alternatif lain masyarakat untuk menambah pendapatan. Fasilitas wisata seperti penginapan, homestay milik warga, saung, camping ground, dan agrowisata budidaya teh, lidah buaya, jamur tiram, ulat sutera, strawberry, dan tanaman hias telah tersedia dan berhasil menarik banyak wisatawan baik dalam maupun luar negeri. Selain itu, masyarakat sudah melakukan upaya pengolahan hasil pertanian dengan memproduksi minuman dari lidah buaya dan teh, serta sabun dari kopi, sereh wangi, dan bahan-bahan alami lainnya.

Program adopsi pohon di Kampung Sarongge menjadi salah satu success story program rehabilitasi lahan di Indonesia. Setidaknya 40.000 pohon berhasil ditanam di areal 38 ha hutan yang rusak dengan melibatkan para tokoh Indonesia, perusahaan, pemerintahan, LSM, lembaga donor, dan lain sebagainya. Dalam kesempatan ini, FORCLIME FC turut mendukung program tersebut dengan mengadopsi 5 pohon yang ditanam di sekitar Saung Sarongge (tempat pertemuan masyarakat) yang ditanam oleh perwakilan dari masing-masing DPMU, NPMu, dan Biro Perencanaan.

Dalam kegiatan di Kampung Sarongge ini, peserta mendapatkan inspirasi bagaimana cara mengemas dan mengintegrasikan potensi alam menjadi wisata alam dan pendidikan sehingga mampu menopang kegiatan perekonomian masyarakat desa. Proses membangun kelompok yang tidak mudah yang diwarnai penolakan dari beberapa anggota masyarakat menjadi informasi penting bagi para peserta. Para tokoh Kampung Sarongge didampingi oleh Green Initiative Foundation dan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango secara terus menerus mendampingi masyarakat secara persuasif disertai upaya peningkatan kapasitas. Radio konservasi inisiasi Green Radio dengan basecamp-nya di Kampung Sarongge turut berkontribusi dalam mempercepat upaya penyadaran konservasi dan ajakan kerjasama konservasi. Saat ini, beberapa anggota masyarakat menjadi relawan untuk mengaktifkan radio konservasi yang isinya juga melingkupi informasi kehidupan sehari-hari masyarakat, hiburan, dan khusus topik konservasi setiap hari rabu. Para relawan ini tidak mendapatkan upah maupun insentif, tetapi inisiatif para relawan sebagai media mempererat hubungan dan kerjasama masyarakat. Pembelajaran tentang sikap, etos kerja masyarakat Kampung Sarongge ini menjadi bahan introspeksi diri para peserta bahwa faktor ekonomi bukan menjadi satu-satunya indikator keberhasilan masyarakat Sarongge dalam berkegiatan di kampungnya, tetapi juga didukung oleh kesungguhan.

Taman Safari Indonesia, Bogor

Taman Safari Indonesia merupakan salah satu taman wisata edukasi berorientasi habitat satwa di alam bebas. Taman Safari menjadi sarana konservasi ex-situ untuk satwa liar sejak berdiri tahun 1980 sekaligus penyangga Taman Nasional Gunung Gede Pangrango di ketinggian 900-1800 mdpl. Dengan koleksi satwa sekitar 2500 dari seluruh dunia termasuk satwa langka, Taman Safari Indonesia juga dilengkapi fasilitas seperti penginapan, outbond, atraksi sirkus, dan permainan fantasi.

Beberapa fasilitas seperti rumah pohon, safari trek memberikan inspirasi kepada para peserta bahwa hutan sedemikian rupa bisa dibuat menarik dengan memperhatikan aspek keindahan dan keamanan pengunjung. Hutan di areal safari trek yang sebenarnya tidak kalah luas dengan hutan di wilayah DA bisa menyuguhkan pemandangan yang unik dengan jalur lintas yang aman. Hal ini memberikan gambaran bahwa hutan di Kalimantan yang ada di sekitar masyarakat bisa dijual keindahannya melalui skema perhutanan sosial. Hak Pengelolaan Hutan Desa yang telah diserahkan pada dua desa dan beberapa calon desa lainnya bisa mengadopsi pola yang serupa terkait pengembangan ekowisata.

  Fasilitas-fasilitas seperti safari tour, baby zoo, dan pusat burung yang memberikan informasi terkait nama spesies, wilayah jelajah spesies, dan status konservasinya. Hal ini bermanfaat bagi para peserta dalam melaksanakan community patrol terkait identifikasi satwa. Para peserta juga menikmati permainan outbond yang bernuansa alam, seperti flying fox, meniti tali, serta permainan lainnya untuk peningkatan kekompakan tim dan daya konsentrasi.

Kegiatan share learning ini diakhiri dengan diskusi berbagi pengalaman dan best practices dari masing-masing DPMU selama program berlangsung. Setiap DPMU diwakili 2 personilnya untuk mempresentasikan kegiatan dan pembelajaran dari masing-masing DPMU.

Kegiatan Peningkatan Kapasitas dan Share Learning Praktik Cerdas Kelola Agroforestry, HHBK Unggulan dan Ekowisata tahun 2017 berdasarkan hasil evaluasi bersama peserta dinilai positif dan bermanfaat untuk membuka wawasan dan adopsi praktik cerdas kelola HHBK, ekowisata dan tata lingkungan program desa/kampung. Tidak hanya peserta dapat belajar secara fisik di lokasi kunjungan, tetapi juga menggali etos dan budaya kerja di lokasi tersebut. Diharapkan hal-hal yang baik yang dapat dipetik dari kegiatan ini dapat diterapkan sesuai kemampuan dan budaya di wilayah masing-masing. Untuk Pengelola Program Forclime, kegiatan ini dapat dijadikan referensi serta digunakan sebagai bahan evaluasi untuk pencapaian tujuan program.