1 / 3

FORCLIME

(Forests and Climate Change Programme)
Financial Cooperation (FC Module)
2 / 3

FORCLIME

(Forests and Climate Change Programme)
Financial Cooperation (FC Module)
3 / 3

FORCLIME

(Forests and Climate Change Programme)
Financial Cooperation (FC Module)

Oleh: Handoyo, Pemandu Lapangan FORCLIME FC DPMU Berau

“Gak disadap mas,..... harga getah turun lagi, nanti kalo bagus kami sadap lagi.... “ Begitulah jawaban Pak Sugeng salah satu petani pekebun karet berusia 52 tahun di kampung Labanan Makarti ketika ditanya kenapa kebun karetnya ditelantarkan, padahal lingkar batang pohon-pohon karet dikebunnya sudah layak sadap.

Sekitar tahun 2010-2013 masyarakat Kampung Labanan Makarti menjadi salah satu Sasaran Program kredit usaha perkebunan yang memberi kesempatan kepada masyarakat untuk mendapatkan dana bagi pembangunan kebun karet rakyat. Angsuran dicicil ketika tanaman karet sudah bisa disadap. Analisa Usaha tani memperlihatkan usaha perkebunan karet rakyat “Layak”, sehingga skema kredit dinilai dapat menguntungkan bagi masyarakat sebagai pekebun, begitu pula bagi penyandang dana/bank.

Cukup banyak anggota masyarakat kampung yang memanfaatkan program tersebut.  Membuka lahan, menanami dengan tanaman karet dan memeliharanya dengan memanfaatkan dana pinjaman yang ditawarkan. Namun perencanaan yang matang pun tidak jarang meleset dari harapan yang diinginkan. Kondisi perekonomian yang lesu menjadikan harga latex turun dan terus makin rendah. Lump karet yang merupakan produk turunan latex yang berkualitas rendah hasil sadapan kebun karet rakyat tentu lebih terpukul lagi harganya. Kondisi tersebut pada akhirnya menjadikan kebun karet rakyat bagai mati suri ..... bahkan terancam konversi.  Gagal !!! 

Kebun karet masyarakat yang sudah layak sadap tetapi dibiarkan saja

Namun pada tahun 2015 Pak Sugeng, yang memanfaatkan dana pinjaman untuk pembangunan kebun karet seluas 2 ha, dapat tersenyum penuh pengharapan, ketika Persemaian bibit Gaharu dan jenis lainnya direncanakan dibuat di Kampung Labanan Makarti. Adalah Program ForClime-FC yang merancang dialog dengan masyarakat, merumuskan masalah seputar lahan dan kehidupan perekonomian masyarakat kampung.  Musyawarah  tingkat Kampung dijadikan media untuk menyusun program bersama. ..... dan muncullah program pembuatan persemaian bibit Gaharu dan bibit Karet untuk Kampung Labanan Makarti. Program yang menjadikan masyarakat kampung sebagai subyek dalam perencanaan dan pelaksanaannya.    

Kegiatan ForClime-FC bertujuan melaksanakan mitigasi dalam kaitan perubahan iklim - pada saat yang sama - mengkombinasikan dengan upaya perbaikan taraf kehidupan perekonomian masyarakat pada daerah sasaran program (Demonstration Area-DA).  Kampung Labanan Makarti adalah salah satu kampung dalam DA#6 Program ForClime-FC di kabupaten Berau.

Lahan-lahan Tanaman Karet dengan katagori umur Tanaman Menghasilkan (TM) dibiarkan tidak dipanen. Harga Lump Karet hanya sekitar Rp 3000 per kg. Dengan harga tersebut petani pekebun merugi bila menyadap. Dengan hasil sadapan perhari ekuivalen 20 kg lump hanya diperoleh pendapatan Rp 60.000,- perhari. Pendapatan perhari dari hasil menyadap lebih rendah dari upah harian di Kampung. Upah harian bekerja di perkebunan Sawit minimal Rp 100.000 per hari menjadi acuan ukuran ekonomis suatu usaha. Keadaan lahan Karet tersebut kemudian disepakati menjadi masalah bagi masyarakat. Lahan tersebut tidak menghasilkan apa-apa. Bahkan terdapat tendensi untuk dikonversi menjadi plasma kebun kelapa sawit. Harus ditemukan solusi bagi masalah tersebut.

Melalui serangkaian diskusi yang akrab dan cair mengalirlah gagasan untuk menanam pohon gaharu. Argumen yang dikemukakan cukup banyak untuk mendukung gagasan menanam pohon gaharu. Pohon Gaharu adalah pohon lokal yang keberadaannya makin langka. Pohon Gaharu secara ekonomis sangat potensial meningkatkan pendapatan masyarakat petani pekebun. Pohon Gaharu secara teknis, menurut pengamatan masyarakat sendiri, akan lebih berkembang bila pada tahun-tahun pertama ternaungi tanaman lain secara moderat. Pasar Gaharu juga telah tersedia di lokal. Pohon Gaharu bisa tinggi dan besar sehingga sesuai untuk maksud perbaikan iklim. Oleh karena itu tanaman gaharu diusulkan masyarakat agar dibuat persemaiannya secara masal untuk ditanam di lahan-lahan tidur masyarakat dan secara khusus ditanam sebagai  disisipan dibawah tegakan karet TM yang terlantar. 

Awal Triwulan IV  2015, persemaian Kampung Labanan Makarti siap operasi. Bibit Gaharu, Karet dan Meranti disemai. Masyarakat secara antusias menyemai dan merawat bibit.  Dijadwalkan pada semester II tahun 2016 siap tanam di lapangan.Bulan Nopember 2016 Pak Sugeng memesan 1000 bibit Gaharu dari persemaian untuk kebun karetnya yang luasnya mencapai 2 ha. Bibit diantarkan Tim Kerja Kampung (TKK) ForClime FC ke kebun Pak Sugeng. Ongkos mengecer juga dibantu program. Demikian pula untuk ajir penanda tanaman, pupuk dan pemeliharaan Tahun Berjalan. Pak Sugeng menanam sendiri bibit-bibit gaharu dengan sepenuh hati, berpengharapan bibit-bibit itulah yang kelak menjadi mutiara perhiasan kebun karetnya di tengah jatuh bangunnya harga latex.

Penanaman pohon gaharu dibawah tegakan karet TM ternyata memiliki keuntungan yang banyak. Lantai kebun karet menjadi terawat, bersih dari tumbuhan pengganggu (gulma), tanaman Karet menjadi sehat, tanaman gaharu pun tumbuh dan berkembang dengan optimal.

Kini kebun Karet terlantar itu bukan kebun karet biasa...... kini nilai hamparan kebun karet itu telah meningkat. Tidak sekedar nilai tanah dan tegakan karet TM, namun ada Gaharu yang tumbuh dan berkembang dan nilainya makin meningkat setiap tahun.   Ketika latex harganya baik, maka kebun dapat disadap dan menghasilkan cash liquid langsung.  Ketika harga latex tidak menguntungkan maka penyadapan dikurangi, dan bidang sadap pun dapat dipulihkan. Sementara itu Sang Gaharu, tabungan masa depan terus bertambah nilainya dengan dukungan pengawalan pemeliharaan Program ForClime FC.    

Sekedar berhitung pesimis, semula nilai 2 hektar kebun karet Pak Sugeng adalah : Tanah Rp 100 Juta ditambah tegakan karet senilai Rp 100 Juta, total 200 Juta.  Kini dengan adanya tanaman Gaharu yang disisipkan sebanyak 1000 pohon maka terdapat potensi nilai tambah pada tahun ke 8-10  kelak sbb: Asumsi 50 % pohon gaharu yang bisa dipanen, masing-masing menghasilkan 0,5 kg gubal gaharu per pohon (harga 5 Juta/kg), Ungar 1 kg per pohon (harga 1 Juta/kg) dan tabokan 100 kg per pohon (harga 35.000/kg) akan diperoleh hasil Gaharu senilai 3,5 M Rupiah !!!. Lebih pesimis lagi dengan mengesampingkan terbentuknya gubal gaharu, hanya dipanen Tabokan saja maka masih akan mendapatkan hasil pohon gaharu sebesar 100 kg x 600 pohon x Rp 35.000,- = 2,1 M. Paling pesimis lagi bila dijual kayu fresh saja masih akan diperoleh 200 kg x 700 pohon x Rp 5000 = 700 Juta Rupiah. Ini belum dihitung nilai daunnya yang dapat dimanfaatkan sebagai teh daun gaharu. Sementara nilai tanahnya telah meningkat dan tentu masih mendapat nilai tambah lagi dari hasil sadapan pohon karetnya. Benar-benar bukan kebun karet biasa !!!